Difteri

difteriMerupakan infeksi bakteri yang menyerang lapisan (membran mukosa) dari tenggorokan dan hidung. Bakteri tersebut mengeluarkan racun/zat toksin yang meluas ke seluruh tubuh melalui aliran darah dan menyebabkan komplikasi seperti miokarditis (radang selaput jantung), kelemahan otot dan gagal ginjal.

Penyebaran melalui kontak langsung media atau udara yang terkontaminasi bakteri. Contoh : cairan dari mulut atau hidung orang yang terinfeksi, dari jari-jari atau handuk atau dari susu yang terkontaminasi bakteri. Mampu menularkan difteri sampai dengan 6 minggu setelah infeksi awal.

Gejala Difteri

  • Demam dan menggigil
  • Sulit bernapas dan menelan
  • Kelenjar bengkak di leher
  • Batuk
  • Sakit tenggorok
  • Kulit kebiruan
  • Berliur
  • Lapisan tebal putih terbentuk menutupi belakang kerongkongan

Vaksin pada anak dan dewasa :

  • 2-4-6-18 bulan – (4-6) tahun atau
  • 2-3-4-18 bulan – SD kelas 1
  • Usia <5 tahun → DPT
  • Usia 5-7 thn → vaksin DT
  • Usia > 7 tahun → vaksin Td atau Tdap yang melindungi terhadap tetanus, difteri dan pertusis harus diulang setiap 10 tahun sekali.
  • Pada orang dewasa (19 tahun ke atas) mendapatkan jenis vaksin tetanus, difteri (Td)
  • Pada wanita hamil baru boleh divaksin pada waktu trimester 2 atau trimester 3.
    Dosis TD pada ibu hamil sama dengan orang dewasa lainnya yaitu 0,5 ml.

Kontraindikasi vaksin pada anak :

  • Anak sakit disertai panas tinggi, pemberian vaksin setelah anak sembuh dari sakit.
  • Pada sakit ringan tanpa demam vaksinasi dapat diberikan.
  • Anak yang pernah mendapat reaksi alergi berat setelah vaksinasi pertama kali dengan DPT, tidak diperbolehkan mendapatkan vaksinasi selanjutnya.
  • Kejang atau pingsan segera setelah vaksinasi dengan DPT
  • Anak menangis keras dan terus menerus selama > 3 jam setelah vaksinasi .

Efek samping setelah pemberian vaksin :

  • Demam
  • Kemerahan dan sedikit bengkak pada tempat suntikan
  • Rasa sakit pada tempat suntikan
  • Rewel
  • Nafsu makan berkurang
  • Muntah

ORI (Outbreak Response Imunization)

Jika dalam satu kawasan sudah status KLB (ditemukan 1 kasus difteri) maka semua anak usia 1-19 tahun harus mendapat ORI sebanyak 3 kali, yaitu interval 0-1-6 bulan. Tanpa memandang status imunisasi sebelumnya. Tetapi apabila tidak di daerah ORI maka imunisasi sesuai program pemerintah.

Data terbaru dari Kementrian Kesehatan Desember 2017, menunjukkan bahwa wabah difteri sudah tersebar di 20 provinsi dan 95 kabupten kota. Imunisasi serentak sudah dilakukan sejak 11 Desember 2017 di DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Prevalensi kasus difteri dan kepadatan penduduk di tiga provinsi cukup tinggi.

ORI akan memberikan vaksi dengan ketentuan DPT-HB-HiB bagi usia 1-5 tahun, DT usia 5 tahun sampai 7 tahun, serta TD usia 7 sampai 19 tahun.

Sumber : mag.co.id

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.