Cacar Monyet

cacar monyetCacar monyet atau monkeypox merupakan jenis penyakit infeksi yang disebabkan oleh Monkeypox virus (MPXV). Virus ini termasuk dalam keluarga Orthopoxvirus. Jenisnya sangat menyerupai virus penyebab smallpox, hanya saja gejala yang ditimbulkan umumnya lebih ringan. Cacar monyet pertama kali ditemukan pada monyet di tahun 1958. Sejak saat itu, penyakit menular ini menjadi salah satu penyakit endemis di area tengah dan barat Afrika. Tidak hanya pada hewan, manusia dan beberapa jenis hewan pengerat lain juga dapat terjangkit virus ini. Di luar Afrika, penyakit ini sempat ditemukan di Amerika Serikat. Pada tahun 2003, ditemukan beberapa orang yang terjangkit penyakit ini, di mana diketahui sebelumnya orang-orang tersebut memiliki riwayat kontak dengan anjing prairie yang menderita cacar monyet. Baru-baru ini, cacar monyet kembali santer diwartakan setelah seorang turis berkebangsaan Nigeria berkunjung ke Singapura dan dirawat di negara tersebut akibat terinfeksi cacar monyet.

Diagnosis Cacar Monyet
Diagnosis cacar monyet ditegakkan atas dasar wawancara medis dan pemeriksaan klinis serta pemeriksaan penunjang. Melalui wawancara medis biasanya akan diketahui bila ada riwayat kontak dengan hewan yang menderita cacar monyet atau hewan liar yang tidak diketahui status kesehatannya. Selain itu, demam, nyeri kepala, pembengkakan kelenjar getah bening, nyeri otot dan mudah lemas juga menjadi keluhan yang kerap disampaikan.

Di samping berdasarkan adanya kontak dengan hewan dan keluhan pasien, diagnosis juga didasarkan pada pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan fisik ini dapat dijumpai bercak kemerahan dan lenting-lenting di kulit yang umumnya muncul pertama kali di wajah, lalu menyebar ke bagian tubuh lainnya. Karena tampilan klinis cacar monyet dapat menyerupai jenis infeksi lain –seperti smallpox, cacar air, campak, infeksi bakteri, skabies, sifilis hingga alergi– maka penetapan diagnosa harus melalui pemeriksaan tambahan juga. Sediaan usapan dari lenting, luka ataupun bercak di kulit pasien diletakkan di wadah steril dan kemudian diperiksa di laboratorium. Beberapa jenis pemeriksaan kemudian dilakukan terhadap sediaan ini untuk menentukan infeksi yang terjadi apakah cacar monyet atau infeksi lainnya.

Gejala Cacar Monyet
Seseorang yang terinfeksi cacar monyet umumnya menunjukkan gejala berikut:

  • Demam
  • Nyeri kepala berat
  • Pembengkakan kelenjar limfe
  • Nyeri punggung
  • Nyeri otot
  • Lemas
  • Ciri yang khas, pada kulit timbul penderitanya akan timbul bercak kemerahan dan lenting yang berisi cairan atau nanah. Bercak dan lenting ini umumnya timbul pertama kali di wajah, lalu menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Berbagai gejala ini biasanya timbul 12 hari setelah paparan virus dan berlangsung selama 14-21 hari. Walaupun umumnya sembuh sempurna, perjalanan penyakit kerap membuat pasien menjadi sangat tersiksa karena apa yang dirasakan dan tampilan fisiknya. Pada sebagian kasus terutama bayi, anak dan orang dengan status imun rendah, cacar monyet dapat berkembang fatal hingga mengakibatkan kematian.

Penyebab Cacar Monyet
Cacar monyet merupakan jenis penyakit yang sifatnya zoonosis atau diperantarai hewan. Dalam hal ini, hewan yang dapat menjadi media penyebarannya adalah monyet, tikus, tupai dan jenis hewan pengerat lainnya serta anjing jenis prairie. Dari hewan yang terinfeksi, virus menyebar ke hewan lain maupun manusia dengan kontak langsung melalui darah, cairan tubuh, luka di kulit dan mukosa, ataupun udara yang terkontaminasi percikan liur hewan tersebut. Sampai sejauh ini, belum ditemukan bukti kuat bahwa virus ini dapat menyebar langsung dari manusia ke manusia.

Pengobatan Cacar Monyet
Tidak ada pengobatan spesifik yang dilakukan pada penderita cacar monyet. Obat-obatan yang diberikan hanya bersifat suportif sesuai keluhan pasien. Misalnya pemberian penurun panas dan anti-nyeri pada pasien yang mengalami demam atau nyeri otot.

Komplikasi Cacar Monyet
Walaupun umumnya sembuh sempurna, komplikasi cacar monyet dapat terjadi pada beberapa kasus terutama bayi, anak dan pasien dengan status imun rendah dan gizi buruk. Komplikasi tersebut dapat berupa bekas luka atau parut pada kulit, infeksi bakteri sekunder, infeksi paru berupa bronkopneumonia, infeksi kornea mata, ulkus kornea, kebutaan, penyebaran infeksi ke darah atau sepsis dan penyebaran penyakit ke otak yang mengakibatkan ensefalitis. Di negara endemisnya sendiri, Afrika, 10% kasus berkembang menjadi sangat berat hingga mengakibatkan kematian.

Pencegahan Cacar Monyet
Salah satu cara efektif mencegah penyebaran virus cacar monyet adalah dengan pemberian vaksinasi smallpox. Vaksin ini memberi perlindungan terhadap cacar air hingga 85 persennya. Sayangnya, karena kasus smallpox telah dinyatakan tereradikasi, ketersediaan vaksin pun menjadi sangat terbatas dan tidak semua negara memilikinya. Oleh karena itu, usaha perlindungan diri dengan metode lainnya wajib menjadi perhatian.

Langkah perlindungan yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Hindari kontak dengan tikus, monyet, tupai dan anjing jenis prairie, terutama yang hidup liar atau tidak diketahui status kesehatannya
  2. Hindari kontak langsung dengan orang yang menderita cacar monyet maupun alat- alat yang digunakan untuk merawat orang tersebut
  3. Hanya makan daging yang dimasak matang sempurna
  4. Bagi petugas kesehatan, wajib mengenakan alat pelindung diri lengkap setiap kali menangani pasien yang dicurigai menderita cacar monyet
  5. Jangan memelihara hewan tanpa terlebih dahulu memeriksa status kesehatannya di dokter hewan

Sumber: klikdokter.com

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.